Kriteria Besi Beton SNI menurut BSN

Badan Standarisasi Nasional (BSN) merupakan institusi yang bertanggungjawab dalam pembuatan standarisasi, termasuk standarisasi besi beton. Sebelumnya, standar besi beton untuk industri baja Indonesia berlaku dalam SII 138-1984 yang memegang tentang Kualitas dan Metode Uji Baja Tulangan Beton.

Setelahnya terdapat beberapa skor revisi dan diubah menjadi SNI 07-2052-2002 mengenai Baja Tulangan Beton yang dikeluarkan oleh Badan Standarisasi Nasional pada tahun 2002. Standarisasi ini mengacu pada referensi yang diambil dari besi baja berstandar Jepang atau JIS (Japanese Industrial Standars).

Besi beton bisa dikatakan memenuhi kwalitas SNI sekiranya sanggup memenuhi kriteria-kriteria yang sudah ditetapkan oleh pemerintan dan BSN; atau paling tidak memenuhi toleransi yang sudah diberlakukan. Revisi-revisi dalam skor standarisasi juga sebenarnya diupayakan untuk memperkecil adanya produk besi beton atau baja tulangan yang tidak cocok standar atau acap kali disebut dengan julukan besi beton banci.

Kriteria Besi Beton SNI menurut BSN

BSN sebenarnya sudah amat mendetail mempertimbangkan kriteria-kriteria beserta definsi dari istilah-istilah yang diterapkan. Dalam hal ini, BSN memegang beberapa hal dan membeberkan beberapa istilah mengenai lahiriah besi beton, diantaranya merupakan sebagai berikut.

Ukuran Nominal, merupakan ukuran cocok yang ditetapkan

Toleransi, merupakan besarnya penyimpangan yang dibolehkan dari ukuran nominal

Diameter Dalam, merupakan ukuran diameter tanpa sirip pada baja tulangan beton sirip

Sirip Melintang, merupakan tiap-tiap sirip yang terdapat pada permukaan batang baja tulangan beton yang melintang kepada sudut batang baja tulangan beton

Menurut sifat tampaknya, besi beton tidak boleh mengandung serpihan, lipatan, retakan, gelombang, cerna (luka pada permukaan besi beton imbas pengerjaan canai) yang dalam dan hanya dibolehkan berkarat ringan pada permukaan. Menurut formatnya, besi beton polos memiliki permukaan baja tulangan yang rata dan tidak bersirip. Sedangkan spesifikasi beton ulir atau beton bersirip sedikit lebih kompleks.

Baca Juga  Ciri – Ciri Besi Beton SNI Indonesia

Permukaan beton ulir harus memiliki sirip yang teratur dengan arah melintang sumbu batang; meskipun rusuknya memanjang searah dan searah dengan sumbu batang. Sirip-sirip tersebut harus terletak pada jarak yang teratur serta memiliki bentuk dan ukuran yang sama.

Sirip melintang tidak dibolehkan menyusun sudut kurang dari 45° kepada sumbu batang. Sekiranya menyusun sudut antara 45° sampai 70°, arah sirip melintang pada satu sisi atau kedua sisi diwujudkan berlawanan. Sedangkan, sekiranya sudutnya diatas 70°, arah yang berlawanan tidak dibutuhkan.